PALANGKA EKSPRES

TERDEPAN DAN SELALU LEBIH MAJU
Edisi 14 Desember 2018

Cicipi Air Terjun Cokelat sambil Lihat Pemandangan Kota

“Yummy-nya” Museum The Imhoff-Schokoladenmuseum di Koln, Jerman
Gambar Cicipi Air Terjun Cokelat sambil Lihat Pemandangan Kota
SEJARAH PANJANG: Melek Brucu bersama pohon cokelat emas di dalam museum.
Museum tidak melulu berisi barang bersejarah dan sejenisnya. Di Kota Koln atau Cologne, Jerman, terdapat museum cokelat. Sesuai namanya, museum tersebut berisi segala sesuatu tentang cokelat. Yang menarik, museum cokelat bernama The Imhoff-Stollwerck Museum itu juga mengajak pengunjung belajar sekaligus mencicipi yummy-nya cokelat ala Jerman.
 
SEKARING RATRI ADANINGGAR, Koln
 
ADA berbagai julukan untuk satu-satunya museum cokelat di Koln ini. Ada yang menamakan The Schokoladen Museum, ada juga yang menyebutnya Cologne Chocolate Museum. Sebagian besar orang juga mengenalnya sebagai The Imhoff-Schokoladenmuseum atau Imhoff Chocolate karena museum tersebut didirikan oleh pengusaha terkenal asal Jerman, Hans Imhoff. Museum resmi dibuka pada 31 Oktober 1993. Imhoff Chocolate Museum merupakan salah satu museum cokelat yang terkenal di dunia.
 
Saking tenarnya, Koln pun dikenal sebagai ibukota cokelat di Jerman. Karena itu, tidak sulit mencari lokasi museum ini, sebab hampir setiap orang di Koln tahu letak persisnya. Museum tersebut tepat berada di pinggir Sungai Rhine. Lokasinya yang cukup strategis membuat museum asyik untuk dikunjungi. Begitu memasuki museum, saya langsung disambut aroma cokelat yang sangat kental.
 
Di sisi kiri, tampak sebuah gerai cokelat atau chocolate shop yang penuh warna. Gerai tersebut menjual berbagai macam jenis cokelat dalam berbagai bentuk yang lucu. Ada cokelat berbentuk kelinci, lollypop, payung, hingga bola-bola. Rasanya pun beragam dan unik. Ada perpaduan dark chocolate yang dipadu dengan caramel, ada pula cokelat susu dengan pink pepper. Tepat di seberang pintu masuk, terdapat sebuah kafe bernama Chocolat The Grand Cafe. Lokasi kafe tersebut berdampingan langsung dengan Sungai Rhine.
 
Sehingga, para pengunjung kafe bisa sekaligus menikmati pemandangan sungai yang cantik. Karena merupakan bagian dari museum cokelat, sebagian besar menu kafe adalah berbagai sajian yang berbau cokelat. Mulai dari minuman hot chocolate, kue, hingga pie cokelat. Beranjak ke tempat selanjutnya, kita langsung disuguhi nuansa yang jauh berbeda. Setelah menyaksikan limpahan cokelat di chocolate shop, saya sampai di sebuah greenhouse dalam sebuah ruangan kaca berukuran 10 meter persegi.
 
Greenhouse tersebut mirip hutan tropis sungguhan. Hanya, ukurannya mini. Hutan tropis buatan tersebut dinamakan “Tropicarium”. Dari tropicarium tersebut, kita diperkenalkan berbagai spesies pohon cokelat dari jenis theobroma cacao dan theobroma grandiflorum. Di sini, kita bisa merasakan dengan suasana hutan tropis lengkap suara-suara alam seperti suara burung dan jangkrik. Setelah menyambangi tropicarium, saya menuju lokasi berikutnya, di mana terdapat sebuah air terjun cokelat setinggi tiga meter lengkap dengan sebuah pohon cokelat emas.
 
Yang menarik, kita bisa mencicipi wafer berlapis cokelat dari air terjun cokelat tersebut secara cuma-cuma. Seorang staf berseragam putih lengkap dengan topi ala chef siap membagi-bagikan wafer berlapis cokelat tersebut kepada para pengunjung, termasuk saya. Staf tersebut bernama Melek Brucu. Melek yang merupakan warga muslim Jerman keturunan Turki menuturkan, air terjun cokelat tersebut terdiri dari 200 liter cokelat cair.
 
Cokelat cair digunakan untuk melapisi wafer. “Baru setelah dilapisi cokelat cair, kami suguhkan wafer kepada para pengunjung yang datang,” ujar Melek dalam bahasa Inggris yang terbata-bata. Yang juga istimewa, air terjun cokelat tersebut ditempatkan di depan sebuah jendela kaca besar yang menyajikan pemandangan kota yang menakjubkan. Menurut Melek, spot air terjun cokelat menjadi salah satu favorit pengunjung.
 
Karena di situ, orang bisa mencicipi cokelat gratis sekaligus menikmati pemandangan. “Biasanya setelah dapat cokelat, mereka (para pengunjung) akan berdiri sejenak di dekat air terjun cokelat untuk melihat-lihat pemandangan,” jelas perempuan berusia 42 tahun itu. Melek menuturkan, museum cokelat tidak pernah sepi pengunjung. Sekalipun bukan hari libur, pengunjung tetap berdatangan dari berbagai negara.
 
Namun, tetap mayoritas adalah warga Jerman dan beberapa negara Eropa lainnya. “Hanya sedikit pengunjung Asia. Saya jarang melihat orang Asia, yang banyak orang Eropa,” ujarnya. Sebagai informasi, setidaknya sekitar lima juta orang mengunjungi museum ini per tahun. Tidak jauh dari lokasi air terjun cokelat, kita bisa melihat langsung proses produksi cokelat. Di sini, kita menyaksikan sejumlah staf berpakaian mirip Melek mengoperasikan mesin yang mengolah biji cokelat menjadi produk cokelat yang siap cetak.
 
Meski museum itu memproduksi cokelat, namun tidak dalam jumlah besar. Dalam sehari, mereka hanya memproduksi 400 kilogram cokelat. “Karena kebutuhannya hanya untuk demo bagi pengunjung,” kata Melek. Masih di lantai yang sama, museum juga memajang berbagai patung yang terbuat dari cokelat. Seperti patung cokelat berbentuk Santa Claus, kuda, sapi, hingga kelinci. Patung-patung cokelat tersebut berukuran besar. Bahkan melebihi ukuran orang Asia seperti saya.
 
Sayang, patung-patung tidak bisa dipegang, karena diletakkan dalam sebuah etalase berukuran besar. Selanjutnya, saya beranjak ke ruangan lain. Ruangan berikutnya, ternyata mirip museum pada umumnya, di mana kita disuguhi beragam penjelasan terkait sejarah cokelat. Mereka menyajikan sejarah cokelat sejak 3000 tahun lalu. Pemaparan sejarah tersebut tersedia dalam dua bahasa, Jerman dan Inggris. Dari situ, kita bisa mengetahui bahwa pada sekitar abad ke-17 dan 18, cokelat adalah barang mewah yang hanya dinikmati kaum borjuis di Eropa.
 
Karena itu, museum juga memajang berbagai macam gelas porselen yang khusus digunakan untuk minum cokelat. Selain pemaparan dalam bentuk gambar dan artikel, ada sebuah ruangan yang disebut “The Treasure Chamber”. Di ruangan tersebut, kita bisa mempelajari bagaimana penggunaan cokelat di masa lampau, khususnya pada masa kebudayaan bangsa Maya dan Aztec dengan menggunakan headphone. Secara keseluruhan, ruangan sejarah cokelat tersebut sengaja dibuat seinteraktif mungkin.
 
Tidak jauh dari ruangan sebelumnya, ada sebuah ruangan mirip mini cinema. Dalam mini cinema tersebut, terdapat sejumlah kursi. Di situ, kita bisa duduk dan menonton berbagai macam iklan produk cokelat mulai dari tahun 1926 hingga masa sekarang. Tepat di bagian luar mini cinema, terdapat sejumlah etalase yang memajang berbagai produk cokelat pada masa lampau. Ada juga beberapa vending machine kuno yang masih terawat. Sebenarnya, Imhoff Chocolate Museum menyediakan paket tur keliling.
 
Namun, karena keterbatasan waktu, saya tidak sempat mengikuti. Namun, Melek dengan senang hati menjelaskan, bahwa dalam paket tur keliling tersebut, kita bisa melihat langsung bagaimana cokelat diproduksi sekaligus mencicipi berbagai jenis cokelat yang baru dibuat. Bahkan, kita tidak hanya mencicipi cokelat yang biasa diproduksi, tapi juga cokelat baru yang belum dirilis di pasaran. “Setelah Anda mencicipi, Anda kemudian akan diminta pendapat mengenai rasa cokelat tersebut like professionals,” ujar Melek sembari tersenyum.
 
Tidak hanya itu, museum juga menyediakan kursus singkat membuat cokelat. Hanya dalam waktu tiga jam, para pengunjung bisa menikmati sekaligus membawa pulang cokelat buatan sendiri. Sayang, biaya kursus singkat tersebut cukup mahal bagi kantong orang Asia, khususnya Indonesia. Namun, semakin banyak jumlah orang dalam grup, makin murah biayanya.
 
Misalnya, dalam satu grup terdapat dua orang, maka biaya per orang adalah EUR 85 atau sekitar Rp 1.105.000. “Tapi kalau satu grup ada tujuh sampai sembilan orang, maka biayanya per orang hanya EUR 40 (Rp 520 ribu),” katanya. Biaya masuk museum sendiri hanya EUR 8,50 atau sekitar Rp 110.500. Dengan penyajian dan pengalaman yang menarik, serta kesempatan mencicipi cokelat gratis, sepertinya angka tersebut menjadi cukup masuk akal.(jpnn/zal)
 
Ingin berkomentar
Komentar Terbaru.

Komentar untuk "Cicipi Air Terjun Cokelat sambil Lihat Pemandangan Kota"

(harus diisi)
  • PALANGKA EKSPRES

    HARIAN PAGI PERTAMA DAN TERBESAR DI KALIMANTAN TENGAH

    Alamat Redaksi: Jl. Tjilik Riwut Km. 2,5 Gedung Biru Kalteng Pos Palangka Raya, Tlpn & Fax (0536) 3264171. Email Redaksi: redaksi@Palangkaekspres.com
    Alamat Iklan:Jl. Tjilik Riwut Km. 2,5 Gedung Biru Kalteng Pos Palangka Raya, Tlpn & Fax (0536) 3264171. Email Iklan : iklan@Palangkaekspres.com 
    Alamat Pemasaran: Gedung Biru Kalteng Pos Jl.Tjilik Riwut km.2,5 Palangka Raya, Tlpn & Fax (0536) 3264171, Email Pemasaran : pemasaran@palangkaekspres.com


    LOADING HALAMAN WEB DALAM 0.1124 DETIK