PALANGKA EKSPRES

TERDEPAN DAN SELALU LEBIH MAJU
Edisi 19 Juli 2018

Kuliah di Dua Jurusan, Menang Lomba Esai tentang Feminisme

Gadis Balikpapan Mengukir Prestasi di Kanada
Gambar Kuliah di Dua Jurusan, Menang Lomba Esai tentang Feminisme
KANGEN BALIKPAPAN: Farah Dompas (tengah) dengan latar belakang air terjun Niagara, bersama adiknya Faridz Dompas (kanan) dan rekannya Nico.
Pergi jauh menimba ilmu ke Kanada, terpisah dari kampung halaman dan orangtua, membuat Farah Savitri Dompas begitu rindu pulang. Sembari menyelesaikan studi yang tinggal setahun lagi, dia ukir berbagai prestasi. Gadis asal Balikpapan ini melayani wawancara via email dengan wartawan Kaltim Post Erwin D. Nugroho. Berikut kisahnya.
 
SUDAH 5 tahun terakhir Farah tinggal di Kanada, negeri jauh di Amerika Utara, yang untuk menuju ke sana harus terbang lintas benua lebih 17 jam dari Indonesia. Selama 1,5 tahun pertama ia habiskan waktu di kota Welland yang dingin di Niagara, menyelesaikan studi jurnalistik di Jurusan Journalism-Print (jurnalisme cetak) di Niagara College. Ia selesai setengah tahun lebih cepat dari program yang seharusnya dua tahun itu. “Sekarang melanjutkan kuliah di dua jurusan sekaligus,” kata alumnus SMA 1 Balikpapan ini.
 
Dua jurusan itu adalah Communication Studies dan Peace Studies, keduanya di McMaster University, Hamilton, Provinsi Ontario. McMaster tercatat sebagai Top 50 universitas terbaik di dunia untuk Ilmu Sosial, Top 5 di dunia untuk Kedokteran, dan Top 10 di dunia untuk Engineering. Dengan mengambil dua jurusan secara bersamaan itu Farah berharap bisa lebih mendalami ilmu komunikasi, terutama yang berkaitan dengan bisnis media, sekaligus tetap awas akan isu-isu sosial.
 
Ia memang punya perhatian lebih pada isu-isu sosial, sesuai kondisi sosial tanah air yang begitu dinamis. “Bukankah concern media-media di Indonesia juga pada tema-tema sosial ini,” katanya. Karena kuliah di jurusan Peace Studies yang banyak mempelajari tentang konflik dan perdamaian dunia, putri sulung pasangan Donny Dompas dan Syarifah Annisa Baraqbah ini jadi sering ikut workshop dan kelas diskusi terkait feminisme. “Ya ini kesempatan, kapan lagi bisa ikut berpartisipasi dalam debat dan diskusi dengan feminis-feminis negara barat?” ujar gadis hitam manis ini.
 
Lahir dan besar dari keluarga muslim yang sangat kental dengan budaya timur, membuat Farah merasa tema-tema feminisme barat itu begitu asing dan menggoda. Penuh ide menarik dan seperti ingin dilahap semuanya. “Tetapi setelah mendalaminya selama beberapa tahun, aku akhirnya menemukan banyak hal yang aku ndak setuju. Feminis negara barat sering melabeli perempuan muslim, terutama yang bukan dari barat, sebagai the oppressed alias kaum yang tertindas,” katanya, mulai berteori.
 
Salah satu alasan “ketertindasan” itu adalah karena kewajiban mengenakan hijab dan pilihan sebagian perempuan muslim untuk mengenakan burqa. “Juga keharusan untuk tunduk kepada suami sebagai imam keluarga,” sambungnya. Menurut Farah, “vonis” ini begitu lemah. Sebab para feminis barat tidak pernah tinggal di timur cukup lama untuk tahu benar kultur dan kebiasaan orang di timur, sehingga lahirlah berbagai kesimpulan hanya atas dasar asumsi.
 
“Western feminism ideas itu sesungguhnya hanya cocok di negara barat, dan tak bisa serta-merta dijadikan tolok ukur bagaimana seharusnya perempuan di dunia ini berlaku dan bertindak,” kata Farah lagi. Sikap “menentang” ide feminisme barat itu kemudian dituangkannya dalam sebuah esai berbahasa Inggris, dengan judul The Problems with Implementing Western Feminism Ideas to Non-Western Muslim Women: An Andragogical Approach.
 
Esai ini ternyata menarik perhatian, dan diikutkan oleh kampusnya dalam lomba penulisan esai tingkat provinsi, di mana ratusan mahasiswa dari sejumlah universitas di Ontario menjadi peserta. Proses seleksinya bertahap, dari lingkup jurusan, lalu ke fakultas, dan akhirnya terpilih mewakili universitas ? yang kemudian disertakan ke lomba tingkat provinsi. Di luar dugaan, esainya menang dalam lomba itu. “Hadiahnya tidak seberapa sih, tetapi rasa bangganya luar biasa,” katanya.
 
Penilaian didasarkan pada pemilihan topik, tata bahasa Inggris, orisinalitas tulisan, serta kuat-tidaknya data-data pendukung. Farah patut berbangga sebab kemenangan itu menandakan ia bukan saja unggul dalam hal ide, tetapi juga tata bahasa Inggris. “Agak lucu sih, sebab kata kawan-kawanku di sini, yang bahasa Inggrisnya bagus itu biasanya hanya ada dua: mahasiswa asing, atau guru bahasa Inggris. Orang asli Kanada nggak mikirin grammar lagi,” ujarnya. Farah memang mencatatkan hasil TOEFL versi IBT (internet based test) dengan skor 116, hampir menyentuh skor tertinggi di angka 120.
 
Lebih kurang setahun lagi sisa waktu studi Farah di Kanada. Ia sudah rindu sekali ingin pulang. Meskipun kehidupan di Kanada begitu mengasyikkan dan serba nyaman, gadis 26 tahun ini tetap ingin kembali ke Indonesia. Menjalani hidupnya di tanah air tercinta. Ini berbeda dengan adik kandungnya, Faridz Azhar Dompas (21), yang juga kuliah di Kanada dan baru saja menyelesaikan studi Biotechnological Engineering dari University of Manitoba. “Faridz sekarang melanjutkan studi jurusan akunting.
 
Rencananya tahun depan dia akan ambil lisensi untuk jadi auditor, dan kemungkinan akan terus tinggal dan berkarier di Kanada,” katanya. Sementara Farah berketetapan hati untuk kembali ke Indonesia begitu kuliahnya selesai. “Aku mau pulang dan kerja di Indonesia, karena merasa akan lebih berguna. Di Kanada, semua serba stabil, serba mapan, serba nyaman.
 
Ilmu yang aku pelajari pasti akan lebih bermanfaat di tanah air,” sambungnya. Selama 5 tahun di negeri orang, Farah baru pernah sekali pulang ke Balikpapan, tahun 2011 lalu. Itupun hanya beberapa pekan. “Nggak bisa sering pulang, karena tiket pesawat paling murah dari Kanada ke Indonesia USD 2.300 lebih. Ini yang sering bikin homesick, rindu keluarga dan… oh, juga wadai ilat sapi,” katanya, menyebut salah satu penganan khas Kalimantan.(windede@kaltimpost.net/che)
 
Ingin berkomentar
Komentar Terbaru.

Komentar untuk "Kuliah di Dua Jurusan, Menang Lomba Esai tentang Feminisme"

(harus diisi)
  • PALANGKA EKSPRES

    HARIAN PAGI PERTAMA DAN TERBESAR DI KALIMANTAN TENGAH

    Alamat Redaksi: Jl. Tjilik Riwut Km. 2,5 Gedung Biru Kalteng Pos Palangka Raya, Tlpn & Fax (0536) 3264171. Email Redaksi: redaksi@Palangkaekspres.com
    Alamat Iklan:Jl. Tjilik Riwut Km. 2,5 Gedung Biru Kalteng Pos Palangka Raya, Tlpn & Fax (0536) 3264171. Email Iklan : iklan@Palangkaekspres.com 
    Alamat Pemasaran: Gedung Biru Kalteng Pos Jl.Tjilik Riwut km.2,5 Palangka Raya, Tlpn & Fax (0536) 3264171, Email Pemasaran : pemasaran@palangkaekspres.com


    LOADING HALAMAN WEB DALAM 0.1170 DETIK