PALANGKA EKSPRES

TERDEPAN DAN SELALU LEBIH MAJU
Edisi 23 Mei 2018

Rerumputan Liar Jadi Lokasi Film Berpenghasilan Rp 10 Triliun

Ke Selandia Baru Menjelang Berakhirnya Musim Panas
Gambar Rerumputan Liar Jadi Lokasi Film Berpenghasilan Rp 10 Triliun
PILIH ALAM KETIMBANG MAL: Ted menjelaskan bagian gambar yang diambil di lokasi syuting LOTR. Zainal Muttaqin bersama Gandalf, salah satu karakter LOTR kanan).(ist)
Salah satu sisi wajah Wellington, Ibu Kota Negara Selandia Baru, tak ubahnya pemandangan alam di simpang Kuaro-Batu Sopang, Kabupaten Paser. Sisi kiri dan kanan penuh rerumputan dan bunga liar yang natural. Namun, dari wajah itulah, tercipta film box office Lord of The Ring (LOTR), salah satu film terlaris dengan pendapatan Rp 10 triliun lebih. Berikut tulisan terakhir dengan gaya bertutur dari Zainal Muttaqin, pimpinan Kaltim Post yang baru pulang dari negeri para Hobbit.
 
DI AUCKLAND tidak dapat kamar hotel, maka terpaksa dua malam tidur berimpitan di kamar kecil  di rumah kos anak saya Ridho Arafah Muttaqin. Karena segan dengan tuan rumahnya, meskipun si tuan rumah sangat ramah, maka saya putuskan berakhir pekan di Wellington, Ibu Kota Negara Selandia Baru. Booking kamar hotelnya ternyata tidak sulit, satu paket dengan pembelian tiket kereta api (KA). Meskipun saya tahu naik KA lebih mahal harga tiketnya dibandingkan naik pesawat terbang, juga lebih lama perjalanannya, saya ingin merasakan naik KA di Selandia Baru.

Tiket KA sekali berangkat untuk satu orang, dari Auckland ke Wellington, harganya 200 dolar Selandia Baru/NZD (1 NZD = Rp 8.400). Bandingkan dengan naik pesawat terbang Jetstar (ini low cost carrier) dari  Wellingon ke Auckland, harganya 45 NZD. Naik KA lama perjalanannya 12 jam, untuk jarak tempuh Auckland-Wellingon yang 660 KM itu. Sedangkan naik pesawat hanya 45 menit.

KA Auckland-Wellington itu tidak bisa laju karena relnya banyak lekukan tajam. Bandingkan dengan naik KA di Tiongkok, dari Shanghai ke Hangzhao yang jaraknya 180 KM itu cukup ditempuh 40 menit, dengan kecepatan rata-rata di atas 200 KM/jam yang bisa dilihat pada display-nya di atas pintu. Meski lebih mahal dan lebih lambat ketimbang pakai pesawat, ternyata KA dari Auckland ke Wellington itu penuh juga penumpangnya.

Ada delapan rangkaian gerbongnya. Satu gerbong untuk kafe, ada juga gerbong terbuka --hanya berpagar dan beratap untuk pelindung panas matahari dan hujan—yang khusus disediakan untuk penumpang yang ingin menikmati udara terbuka. Di gerbong ini, bisa sambil foto-foto di sepanjang perjalanan. KA ini melewati taman nasional Tangariro. Sepanjang perjalanan pemandangannya memang indah, melewati kawasan peternakan sapi dan domba, sesekali ada pertanian jagung yang sudah bisa panen.

Penumpang KA tampak didominasi orang tua berusia 60 tahunan. Mereka seperti para pensiunan yang menikmati hari tuanya dengan mengunjungi tempat-tempat wisata.

Mereka berasal dari mancanegara, kita bisa ketahui dari bahasa yang mereka gunakan berkomunikasi dengan pasangannya masing-masing. Hanya sedikit warga setempat yang naik KA, tampaknya mereka warga dari kota-kota kecil di sepanjang jalur KA. Hanya dua kali KA itu berhenti, yakni di Kota Hamilton dan di Kota Palmerston North, keduanya daerah peternakan sapi dan domba.

Kebanyakan wisatawan di Auckland dan Wellington adalah orang-orang berusia lanjut. Kecuali wisatawan dari Tiongkok, Korea dan Jepang.

Di Wellington saya dan anak saya Ridho baru berkumpul dengan wisatawan remaja ketika mengikuti tur ke lokasi syuting film The Lord of The Ring (LOTR), yang sequel pertama dan keduanya sudah beberapa kali diputar di jaringan stasiun TV berbayar HBO.

Tur ke lokasi syuting film LOTR itu laris manis. Menyediakan waktu empat jam. Satu rombongan maksimum untuk 10 orang. Di rombongan kami, hanya saya yang tua. Para remaja itu mengaku dari Jerman, Belanda, Inggris, Argentina dan Australia. Tiap orang dikenai bayaran 85 NZD, sudah termasuk makan siang roti Subway dan minuman ringan.

Pemandunya sangat piawai menjelaskan bagian-bagian gambar yang diambil di lokasi syuting yang kami kunjungi. Boleh dibilang semacam kursus singkat bagi kami memahami bagian cinematografi. Ted, nama pemandu itu, cara menjelaskannya layaknya seorang sutradara. Bahkan dia juga membawa alat peraga, yang mempersilakan peserta tur tampil sebagai salah satu karakter di film itu. Tentu anak-anak muda mancanegara itu sangat menikmati tur tersebut. Waktu empat jam ternyata terasa sangat singkat.

Pemandangan alam lokasi syuting itu, saya lihat hampir mirip dengan pemandangan di sepanjang perjalanan dari simpang Kuaro-Batu Sopang-Batu Kajang sampai Muara Komam di Kabupaten Paser.

Tetapi Selandia Baru mendapat berkah jadi pilihan lokasi syuting film-film laris. LOTR sudah memproduksi tiga sequel. Sequelnya yang berjudul “The Return of The King”, yang beredar tahun 2003, masuk film paling laris dengan hasil penjualan 1,12 miliar USD atau setara Rp 10 triliun rupiah lebih.

Semua lokasi syuting LOTR itu sengaja dipelihara dengan sangat baik oleh pemerintah Selandia Baru. Itu bisa dilihat dari pataka-pataka yang dipasang semua lokasi itu. Cara mereka itu tentu sangat mudah ditiru, untuk dijadikan objek wisata. Misalnya lokasi syuting “Si Doel Anak Betawi” tentu akan menarik wisatawan domestik untuk mengunjunginya, karena serial sinetronnya sempat sangat digandrungi penonton televisi di negeri kita.

Selandia Baru juga menjadi lokasi syuting film laris lainnya yakni “The Chronicles of Narnia”. Film yang disukai anak-anak mancanegara.

Boleh jadi berkah Tuhan diberikan kepada Selandia Baru karena pemerintah negeri ini mendorong warganya mencintai alamnya. Di Auckland maupun Wellington kita tidak akan menemukan mal, yang biasa di negeri kita dijadikan tempat rekreasi warga.

Bahkan Jakarta disebut-sebut sebagai kota dengan mal terbanyak di dunia!

“Di Wellington memang tidak ada mal, apalagi supermal,” kata Ted, pemandu kami dalam tur LOTR.

Berwisata ke mal tampaknya hanya akan menguatkan sikap konsumtif. Sikap seperti itu tentu bisa mendorong keinginan memiliki barang-barang bermerek dan berharga mahal.

Masyarakat Selandia Baru rekreasinya, ya, ke alam terbuka. Mereka mengunjungi gunung-gunung, hutan, berenang, berselancar dan berlayar di laut. Juga bersepeda keliling kota. Karena itu tak mengherankan pada hari libur semua pantai ramai dikunjungi warga.

Bahkan di Auckland maupun di Tauranga, lokasi pantai untuk rekreasi keluarga dengan yang bujangan dipisahkan. Maklum, di pantai itu anak-anak muda boleh dibilang telanjang.

Meskipun bangunan gedung-gedung di Wellington lebih modern dibandingkan di Auckland, tetapi suasana kota Wellington selepas senja lebih sepi.

Toko-toko sudah banyak yang tutup pada jam 17.00 sore. Suasana khas negara yang parlemennya banyak dikuasai wakil dari partai buruh. Di akhir musim panas seperti sekarang, matahari baru tenggelam jam 20.30. Pada jam itu kami baru akan salat magrib. Salat subuhnya jam 05.15.(zam@kaltimpost.net/che/k1)
 
 
Ingin berkomentar
Komentar Terbaru.
  • User Image
    Rocco

    Which university are you at? vicerex uk Rules restricting how early in the tournament teams from the same conference could face one

  • User Image
    Getjoy

    I've just started at what are the best drugs for arthritis The incident on the 787 Dreamliner follows a spat

  • User Image
    Rusty

    I'm happy very good site can u take ibuprofen during pregnancy “After the World Series in 1980, every city I went to,

  • User Image
    Leonard

    I'd like some euros cyx3 results "Through my department, they met with officials, and I thinkthey explored a number of the ques

  • User Image
    Jonathon

    I can't get a dialling tone vaso 9 works So to the Japanese it’s kinda like a next-gen Neo-Geo? Weird, I

Komentar untuk "Rerumputan Liar Jadi Lokasi Film Berpenghasilan Rp 10 Triliun"

(harus diisi)
  • PALANGKA EKSPRES

    HARIAN PAGI PERTAMA DAN TERBESAR DI KALIMANTAN TENGAH

    Alamat Redaksi: Jl. Tjilik Riwut Km. 2,5 Gedung Biru Kalteng Pos Palangka Raya, Tlpn & Fax (0536) 3264171. Email Redaksi: redaksi@Palangkaekspres.com
    Alamat Iklan:Jl. Tjilik Riwut Km. 2,5 Gedung Biru Kalteng Pos Palangka Raya, Tlpn & Fax (0536) 3264171. Email Iklan : iklan@Palangkaekspres.com 
    Alamat Pemasaran: Gedung Biru Kalteng Pos Jl.Tjilik Riwut km.2,5 Palangka Raya, Tlpn & Fax (0536) 3264171, Email Pemasaran : pemasaran@palangkaekspres.com


    LOADING HALAMAN WEB DALAM 0.0589 DETIK