PALANGKA EKSPRES

TERDEPAN DAN SELALU LEBIH MAJU
Edisi 14 Desember 2018

Manisnya Kejujuran di Negeri Paling Anti-Korupsi

Ke Selandia Baru Menjelang Berakhirnya Musim Panas
Gambar Manisnya Kejujuran di Negeri Paling Anti-Korupsi
Chinese New Year atau Imlek, tahun ini terasa berbeda di Auckland, Selandia Baru. Ketika kami mendarat di Auckland, sudah sebelas hari tahun baru Imlek berjalan, namun suasananya masih meriah. Makin banyak saja wisatawan dari Tiongkok berdatangan, sehingga membuat semua kamar hotel terisi semua. Demikian dikisahkan dengan gaya bertutur oleh Zainal Muttaqin, pimpinan Kaltim Post yang baru saja kembali dari sana mengantar anak bungsunya yang mulai tahun ini kuliah di University of Auckland.

AWAL tahun lalu kami juga pergi ke Auckland untuk mengunjungi pabrik mesin cetak koran di kota Tauranga, tiga jam perjalanan dengan mobil dari Auckland. Waku itu saya sekalian mengantar anak ketiga saya, Rachman Ainul Muttaqin, untuk mengambil kursus setahun, dan anak keempat saya Ridho Arafah Muttaqin untuk persiapan memasuki perguruan tinggi. Keduanya di Auckland. Ketika itu tepat perayaan Imlek. Suasananya biasa-biasa saja. Ada perayaan di hotel tempat kami menginap, Sky City Hotel, tapi tidak semeriah sekarang.

Imlek kali ini membuat semua kamar hotel fully booked. Seminggu sebelum berangkat, seperti biasa menjelang perjalanan ke luar negeri, kami sudah berusaha memesan hotel. Namun kali ini semua hotel di Auckland menjawab: tidak ada lagi kamar kosong, semuanya sudah dipesan.

Ada kolega saya berusaha membantu. Dapatnya suite room yang harga satu malamnya 500 dolar Selandia Baru (NZD), atau setara Rp 4,2 juta/malam (1 NZD = Rp 8.400). Tentu bagi kami itu terlalu mahal. Sebab selama ini kami membatasi diri, bermalam di hotel yang harga per malamnya paling mahal  100 USD atau setara sejuta Rupiah.

Karena tidak dapat memesan kamar hotel, maka untuk malam pertama dan kedua di Auckland (tanggal 21 dan 22 Pebruari), Kamis dan Jumat, saya putuskan untuk nebeng bermalam di tempat kos Ridho di Temuka Gardens, komplek perumahan di pinggiran kota. Perlu 30 menit dengan bus ke pusat kota, dengan ongkos 5 NZD sekali jalan. Sabtu dan Minggu (23 dan 24 Februari) mengungsi  ke Wellington, Ibu kota Selandia Baru, yang jaraknya 660 KM dari Auckland.

Di Wellington ternyata tidak sulit mendapatkan kamar hotel. Kami ke Wellington berangkat naik kereta api, pulangnya naik pesawat, semua tiket dan kamar hotelnya sudah kami pesan lewat internet dari Surabaya.

Pesawat yang kami tumpangi, Qantas Airways mendarat di Auckland Kamis sore jam 15.30 waktu Selandia Baru, di Balikpapan jam 10.30 pagi. Kami langsung naik taksi ke rumah kos Ridho, ongkosnya 70 NZD. Setelah meletakkan koper dan tas, Ridho baru tahu ternyata handphone (Hp)-nya tertinggal di taksi. Dia sangat panik, karena tidak mengingat nama perusahaan taksinya maupun nama sopirnya, yang identitas dirinya selalu terpampang di bagian atas dashboard mobil taksi.

Saya berusaha menghiburnya dengan mengatakan, “Ya, sudahlah, relakan saja Hp-mu hilang. Nanti kalau ada rezeki, ya, beli lagi. Buat apa disedihkan, kalau memang waktunya hilang, ya, hilanglah”.

Namun Ridho terus berusaha menelepon perusahaan-perusahaan taksi yang ada di Auckland, dengan mendapatkan alamatnya melalui internet. Dia pesankan ke perusahaan-perusahaan taksi itu, jika menemukan Hp-nya merek Apple jenis I-phone5, mohon dikembalikan ke rumah di kompleks Temuka Gardens nomor 10. Kepada operator di perusahaan taksi itu, Ridho hanya memberikan ciri sopirnya berwajah India. Padahal sopir taksi di Auckland hampir semuanya berwajah India.

“Hp itu baru saya beli di Sutos (Surabaya Town Square) Januari lalu. Harganya delapan juta rupiah,” kata Ridho kepada saya, dengan wajah yang tampak sangat sedih.

Setelah itu kami menuju ke pusat kota Auckland, untuk mengecek apakah benar semua kamar hotel sudah penuh dipesan, sampai hari Senin 25 Maret. Ternyata memang demikian adanya. Kami temui resepsionis Sky City Hotel dan President Hotel  di Victoria Street, jawaban yang kami dapat semua kamar sudah dipesan tamu sampai hari Senin. Demikian juga hotel-hotel lain di sekitarnya, termasuk Hotel Mercure Windsor di Queen Street, yang tahun lalu saya pernah menginap di sana.

Di semua hotel itu memang tampak banyak turis berwajah tionghoa. Hotel-hotel maupun pertokoan di Auckland banyak memasang atribut-atribut yang biasa dipasang meramaikan imlek, seperti di Indonesia, antara lain lampion, tulisan-tulisan Chinese New Year yang didominasi warna merah dan gambar ular berwarna emas. Tahun ini dalam penanggalan Tiongkok dilambangkan sebagai tahun ular.

Lelah mencari kamar hotel dan perut yang sangat lapar, setelah menempuh penerbangan 10 jam dengan waktu transit dua jam di Sydney Australia, kami putuskan mencari makan malam. Jam 21.00 malam kami kembali ke rumah kos Ridho di Temuka Gardens naik bus. Setibanya di rumah, kami dikejutkan dengan pemberitahuan dari Ibu kos Ridho, bahwa tadi ada sopir taksi yang datang ke rumah mengantarkan Hp milik Ridho. “You are lucky Ridho,” kata Kala Siva Guru, ibu kos Ridho yang orang Srilanka dan sudah berpuluh tahun tinggal di Auckland.

Budaya jujur masyarakat Selandia Baru sudah dikenal ke mancanegara. Transparency International (TI), lembaga yang mengkhususkan diri menyoroti korupsi di semua negara, menempatkan Selandia Baru pada peringkat pertama indeks persepsi korupsi. Artinya ini negeri yang masyarakatnya dikategorikan paling anti-korupsi, atau yang menjunjung tinggi kejujuran.

Demikian pula dengan perhimpunan cendekiawan muslim seluruh dunia, yang bermarkas di Amerika Serikat, dalam surveinya tahun lalu, menempatkan Selandia Baru pada peringkat pertama sebagai negara yang dijalankan dengan prinsip-prinsip Islam. Yakni dikembangkannya budaya jujur di masyarakat, rasa aman dalam hidup bersama dengan keyakinan yang berbeda-beda.

Padahal Selandia Baru bukan negara Islam, dan pemeluk Islamnya minoritas. Hasil survei itu menempatkan Indonesia pada peringkat ke-115, meskipun pemeluk Islamnya sangat mayoritas.

Esoknya, karena hari Jumat, saya dan Ridho menunaikan salat Jumat di masjid kampus Auckland University of Technology (AUT). Peserta salat Jumat meluber sampai ke halaman. Setelah salat, tampak beberapa mahasiswa asal Indonesia dan Malaysia bercengkerama. Tampaknya salat Jumat juga dijadikan ajang silaturahmi oleh mereka. Demikian pula dengan para lelaki berwajah Timur Tengah. Mereka saling berangkulan erat, seolah telah lama tidak berjumpa. (zam@kaltimpost.net/bersambung/che/k1).
 
Ingin berkomentar
Komentar Terbaru.

Komentar untuk "Manisnya Kejujuran di Negeri Paling Anti-Korupsi"

(harus diisi)
  • PALANGKA EKSPRES

    HARIAN PAGI PERTAMA DAN TERBESAR DI KALIMANTAN TENGAH

    Alamat Redaksi: Jl. Tjilik Riwut Km. 2,5 Gedung Biru Kalteng Pos Palangka Raya, Tlpn & Fax (0536) 3264171. Email Redaksi: redaksi@Palangkaekspres.com
    Alamat Iklan:Jl. Tjilik Riwut Km. 2,5 Gedung Biru Kalteng Pos Palangka Raya, Tlpn & Fax (0536) 3264171. Email Iklan : iklan@Palangkaekspres.com 
    Alamat Pemasaran: Gedung Biru Kalteng Pos Jl.Tjilik Riwut km.2,5 Palangka Raya, Tlpn & Fax (0536) 3264171, Email Pemasaran : pemasaran@palangkaekspres.com


    LOADING HALAMAN WEB DALAM 0.0674 DETIK