Keranda Jenazah Legendaris di Indonesia yang Telah Ada Sejak Indonesia Belum Merdeka

Rabu, Tanggal 15-05-2019, jam 08:09:04

single-post

intisari.grid.id

Di Indonesia memiliki banyak benda yang memiliki nilai sejarah, termasuk Keranda jenazah. Uniknya keranda jenazah ini sangat berat sehingga tak cukup hanya 4 orang yang membawanya. Untuk membawa keranda saja, diperlukan sebanyak delapan orang. Kayu tua ini terlihat kokoh hingga saat ini.

Keberadaan Kampung Jawa di Dusun Wanasari, Desa Dauh Puri Kaja, Denpasar Utara memiliki kelindan sejarah panjang di Bali. Sejarah ini bisa ditelusuri dari keberadaan bukti sejarah otentik yakni berupa keranda jenazah yang berada di TPU Wanasari Maruti 13.

Sayangnya, hingga kini asal-usul sejarah keranda ini belum terungkap. Wakil Ketua Yayasan Pemakaman Muslim Wanasari Maruti 13, Sumartono (60) mengatakan, keranda ini merupakan salah satu bukti otentik terkait sejarah keberadaan Kampung Jawa di Bali yang masih ada.

Namun dalam mengungkap klausul awal mula sejarahnya, pihaknya masih menemui sejumlah kendala, khususnya soal minimnya saksi atau pelaku sejarah.

''Hingga saat ini kita belum ada data pasti soal sejarah keranda ini. Saksi sejarah para tetua kita di sini sudah meninggal semua,'' ungkapnya kepada Tribun Bali, Selasa (7/5/2019). Sejatinya masih ada tetua generasi kedua yang mengetahui kronologi sejarah Kampung Jawa. Namanya Pak Subandi. ''Tapi beliau sekarang sudah sakit-sakitan dan sudah agak pikun. Kami juga kesulitan mau ngumpulin data validnya,'' ujarnya.

Petugas Yayasan Pemakaman TPU Wanasari Maruti 13 menunjukkan keranda jenazah legendaris yang disimpan di belakang kantor. Keranda yang diperkirakan dibuat tahun 1929 ini tak lagi digunakan lantaran berat. Kendati demikian, pihaknya dalam waktu dekat berencana menyusun data sejarah tertulis terkait semua hal terkait asal-usul Kampung Jawa, termasuk keranda jenazah yang disebut legendaris ini.

''Nanti kedepan kita memang berencana akan menjadikan keranda ini semacam kita museumkan juga." "Untuk sejarah tertulisnya dalam waktu dekat akan kita susun, biar valid,'' kata pria asli kelahiran Denpasar ini. Seperti pada umumnya, keranda jenazah ini berukuran standar 3x1 meter terbuat dari kayu jati dan dicat warna hijau.

Kondisinya sendiri masih terlihat kokoh, tanpa ada tanda dimakan usia. Pada bagian depan tudung, terdapat ukiran angka yang merujuk pada tahun pembuatan bertuliskan angka 1929. Dari informasi yang dihimpun, keranda ini diperkirakan sudah ada dan digunakan warga sejak zaman kolonial Belanda sejak 1918-1929.

Keranda itu merupakan keranda pertama yang digunakan warga Kampung Jawa jika ada warga yang meninggal. Mulanya, kata dia, total terdapat dua unit keranda. Namun, satu unit dibawa ke kampung Kecicang Islam, Karangasem. Pada 2005, keranda ini sudah ‘pensiun’ untuk menggotong jenazah alias sudah tak lagi dipakai, baik di sini maupun di Karangasem, karena sudah ada keranda yang lebih ringan berbahan stainless steel.

''Karena memang berat sekali. Butuh lebih dari 8 orang untuk mengangkut satu jenazah. Belum ada jenazah saja sudah berat, ada sekitar 100 kg beratnya,'' ujarnya. Bicara soal Kampung Jawa juga tak lepas dari peristiwa Perang Puputan 1906.

Dalam perang melawan kolonial Belanda, konon juga melibatkan perjuangan bersama antara prajurit pejuang Jawa dan Bali dalam mengusir penjajah di bawah Kerajaan Pemecutan Badung. Hal ini bisa ditelusuri melalui monumen atau prasasti di TPU Wanasari Maruti 13.

Dalam monumen ini mencatat 25 nama Moeda Djoeang/Syuhada Kemerdekaan Republik Indonesia Kampoeng Djawa Denpasar. Dari perjuangan bersama inilah kemudian konon Raja Pemecutan Badung menghibahkan tanah di seputaran Jalan A Yani dan Maruti Denpasar sebagai lahan pemukiman para pejuang Jawa. Lahan hibah ini kemudian menjadi pusat pemukiman hingga saat ini. (Net)