Kesuksesan Budidaya Madu Kelulut

Dibully dan Dikata Beruang

Rabu, Tanggal 05-02-2020, jam 09:38:28

single-post

FOTO: ELLA/PE BUDIDAYA MADU KELULUT: Zakaria saat akan memanen madu kelulut di box budidaya di halaman rumahnya, Minggu (2/2) lalu.

 
Sempat dipandang sebelah mata, tidak membuat Zakaria Gatno (45), warga RT 01, Desa Dorong, Kecamatan Dusun Timur, Kabupaten Barito Timur (Bartim) menyerah. Namun akhirnya, dirinya berhasil membuktikan bahwa pekerjaan membudidaya lebah kelulut (Triggona Itama) menghasilkan pundi-pundi rupiah untuk meningkatkan pendapatan ekonomi keluarganya.
 
 
BULLY-an kerap didapat Zakaria saat memulai usaha budidaya madu kelulut. Akan tetapi, ucapan masyarakat yang merendahkan niatnya tersebut bukan menjadi halangan untuk meneruskan niatnya.  Usaha yang mulai dirintis tahun 2018 silam, acap kali mendapat pandangan sebelah mata di sekitarnya karena menekuni usaha yang tidak lazim, namun kini Zakaria menikmati manisnya penghasilan dari madu kelulut.
 
Saat disambangi awak media dikediamannya Zakaria mengatakan, niatnya menggeluti budidaya madu kelulut setelah dirinya menonton di youtube ditahun 2018. Tentang budidaya madu kelulut. "Setelah menonton di youtube, saya melihat ada peluang untuk mendapatkan penghasilan dari ini," kata Zakaria saat ditemui di rumahnya, kemarin (4/2.
 
Zakaria menceritakan, pada awal usahanya sering gagal, namun niat dan tekadnya yang sangat kuat untuk mempelajari cara yang paling baik agar kelulut liar tersebut bisa berkembang biak dan menghasilkan madu.
"Setelah satu setengah tahun, sekarang Zakaria memiliki sekitar 180 kotak budidaya kelulut dan yang benar-benar menghasilkan madu ada 50 kotak," ujarnya.
 
Zakaria mengatakan, lebah kelulut tidak seperti lebah tawon ukuran tubuhnya lebih kecil dan mirip lalat, lebah ini biasa bersarang di dalam batang-batang pohon dan tidak menyengat. Dari awal sebutnya memulai usaha ini sering diremehkan orang-orang di sekitar dan dianggap aneh karena mencoba beternak lebah kelulut liar yang diambil dari hutan.  "Saya jadi bahan olok-olok orang, bahkan ada yang menyebut saya beruang madu. Kalau mau menyerah, dari dulu saya sudah menyerah," tuturnya.
 
Menurut pria yang memiliki tiga orang anak ini, saat panen setiap kotak kelulut menghasilkan madu sekitar 200 mililiter, panen biasa dilakukan tiap satu setengah bulan. Kotak budidaya madu ditempatkan Zakaria di bawah pohon-pohon karet di sekitar rumah dan juga sebagian yang digantung di dinding rumah. "Hasil panen madu kelulut dijual seharga Rp 300 ribu perliter, atau dikemas dalam botol kecil ukuran 200 mililiter dan dijual dengan harga Rp 60 ribu per botol," urainya.
 
Zakaria menambahkan, bahwa hasil panen madu kelulut yang dijual  biasanya dikemas menggunakan botol soft drink sehingga membuat tampilan produk madunya kurang menarik dan layak untuk dijual secara luas. Sebab dirinya belum mengetahui dimana harus memesan botol kemasan yang baru dan cara mengemas yang baik supaya madu ini bisa dijual secara luas. "Mudah-mudahan ada yang bisa membantu saya, ya syukur-syukur dari pemerintah langsung,” ujarnya.
 
Lebih lanjut, Zakaria menerangian bahwa bila  melihat potensi usaha madu kelulut cukup baik. Oleh sebab itu dirinya akan terus  mengembangkan budidaya lebah kelulutnya walau saat ini masih mengalami kendala pemasaran. "Pemasaran hasil panen madu kelulut secara luas kami masih kesulitan. Sebab belum ada yang membantu memasarkan," tandasnya. (*)
 
Penulis ELLA, Tamiang Layang