Unik, Doktor dan Profesor Diskusi di Kandang Ayam

Berjalan di Tanah Becek untuk Kembangkan UPR

Selasa, Tanggal 11-02-2020, jam 10:03:40

single-post

FOTO: UPR UNTUK PE DISKUSI: Rektor UPR, Dr Andrie Elia Embang saat memberikan sambutan dalam forum diskusi dengan sejumlah petinggi Rektorat UPR, Minggu (9/2).

Seperti ilmu padi "kian berisi kian merunduk". Yakni semakin tinggi ilmu, semakin rendah hatinya, kalau sudah pandai jangan sombong, selalulah rendah hati. Doktor dan Profesor adalah gelar yang didapatkan seseorang, ini menandakan tingkatan  pendidikannya.

 

BEGITULAH citra yang ditunjukkan petinggi Rektorat UPR. Beberapa waktu lalu, ada suasana lain saat petinggi Rektorat, saat menggelar pertemuan ringan civitas akademika terkait pengembangan kawasan pertanian terpadu UPR. Perjalanan petinggi Rektorat yang bergelar Doktor dan Profesor ini dimulai di halaman Kantor Rektor UPR pukul 11.00 WIB, Minggu (9/2) pagi.

Yakni Rektor UPR, Dr Andrie Elia Embang SE MSi didampingi Wakil Rektor Bidang Perencanaan dan Kerjasama yakni Prof Dr Sulmin Gumiri, Wakil Rektor Bidang Hukum Organisasi SDM dan Kemahasiswaan Prof Dr Suwandi Sidahuruk dan Wakil Rektor Bidang Umum dan Keuangan Dr H Suriansyah Murhaini dan beberapa dekan serta pegawai kabag staf lainnya.

Saat itu, mereka mengenakan pakaian bukan resmi layaknya jas dan baju dan celana rapi. Sepatunya pun tak mengkilap. Hanya mengenakan kaos, sepatu sporty dan bot bahkan memakai jaket jenis jas hujan. Disiang itu, awal terlihat mendung.

"Kami mau bertemu tim pengembangan kawasan pertanian terpadu dilokasi sekalian penanaman pohon perdana. Lokasi di lahan UPR, belakang Fakultas Hukum," begitulah sapaan Rektor menyampaikan agenda kegiatannya saat itu.

Setelah kumpul, rombongan ini kemudian berangkat ke lokasi. Perkiraan saat itu pukul 11.30 WIB. Benar saja, setiba di lokasi lahan dengan luasan lebih kurang lima hektare, terlihat betapa sulitnya medan jalannya. Kendaraan tidak bisa masuk, ke lokasi acara yang jaraknya satu kilo lebih ke tempat pertemuan. Bahkan akses jalan  yang dibuat baru dengan timbunan tanah kerukan di tambah rintihan air hujan, menumbulkan becek.

"Lokasinya jauh disana (menunjuk lokasi), jalannya juga masih becek," ungkap Rektor saat itu sambil berjalan. Alhasil, sepatu kotor, pakaian pun basah karena rintik hujan dan lebih kurang sepuluh menit tiba di lokasi yang disiapkan.

Rombongan petinggi Rektor ini, disambut tim pengembangan kawasan pertanian terpadu UPR yang juga beranggotakan  mahasiswa UPR. "Tempat yang kita gunakan ini adalah bangunan yang dibuat untuk mengembang biakan ayam. Bisa juga itik. Kemudian dibawahnya adalah lokasi pertanian dan kolam ikan," ucap Rektor.

Artinya, pertemuan saat itu digelar disebuah kandang ayam, terbuat dari kayu dan bambu. Petinggi Rektorat ini tanpa segan, bahkan diiringi senyum duduk di dalamnya. Kemudian acara pun dimulai, disini Rektor menyampaikan arahan serta di lanjutkan sesi tanya jawab.

"Ini salah satu bentuk keseriusan kita, UPR mengembangkan sektor pertanian di atas lahan gambut. Kemudian ini kita sharing  untuk membahas kiat-kiat dalam pembangunan UPR kedepannya," kata Rektor.

Layaknya suasana di tengah persawahan, hembusan angin alam, sesekali ada suara burung yang terdengar di tambah rintik hujan. Ini mungkin pertama kali, bagi beberapa kalangan staf UPR merasakan suasana sederhana tersebut. Begitu juga kami, media yang mengikuti kegiatan rektor.

"Tanah ini adalah aset UPR. Komitmen kami untuk mengembangkan aset ini agar bermanfaat baik untuk pendidikan, penelitian dan pembangunan UPR," pesan rektor diakhir pertemuan yang berlangsung lebih kurang tiga jam. (*)

 

Penulis Maruli FX Sinurat, Palangka Raya.