Menambah Kebutuhan Ekonimi Keluarga

Cuaca Buruk, Nelayan Buat Miniatur Kapal Pesiar

Senin, Tanggal 24-06-2019, jam 09:04:14

single-post

FOTO: YAD/PE PENGRAJI: Mar'i membuat miniatur kapal yang terbuat dari kayu hasil, kemarin (21/6).

 

Kapan datangnya cuaca buruk, terkada tidak bisa diperidiksi sehingga nelayan di Desa Sungai Undang, Kecamatan Seruyan Hilir, Kabupaten Seruyan acap kali terjebak di laut. Namun jika tidak melalui mereka membuat kerajinan miniatur Kapal Pesiar yang terbuat dari kayu.

M YADI, Kuala Pembuang

Mar,i (49) salah satu warga setempat yang memiliki keahlian dalam membuat miniatur Kapal Pesiar yang terbuat dari kayu tersebut. Puluhan tahun sebagai nelayan, dia selalu menyempatkan diri untuk mengisi kekosongan ketika tidak melaut untuk membuat miniatur kapal tersebut.

Awalnya, kata Mar,i, dirinya jenuh ketika tidak bisa berangkat melalui selama beberapa hari dengan alasan kondisi cuaca buruk. Melihat potongan kayu bekas di dekat rumah muncul ide untuk membuat kapal untuk anaknya.

Setelah beberapa lama kapal yang dibuatnya selesai, warga lain yang melihat hasil karya itu banyak tertarik sehingga dirinya mulai mencoba kembali. Namun pembuatan seketika dirinya tidak bisa melaut saja.

Setelah itu banyak pesanan masyarakat Kuala Pembuang, hingga sekarang sampai keluar daerah. Pembuatan sendiri menyesuaikan pesanan dari gambar yang diinginkan konsumen, namun pembuatan sendiri hanya secara manual alias tanpa mesin sehingga membutuhkan waktu yang cukup lama.

“Bahan saya menggunakan kayu jenis Plantan. Karena kayu jenis ini memiliki tekstur serat lebih rapat, ringan dan kuat dan tahan lama. Lebih utama mudah untuk membentuknya, karena saya masih menggunakan cara manual dalam pembuatan,” ujar Mar,i kepada awak Palangka Ekspres ketika diwawancarai, kemarin (21/6).

Dikatakannya, untuk harga sebuah miniatur perahu hasil kerajinannya dijual sekitar Rp 400 ribu sampai dengan Rp 3 juta. Tergantung dari ukuran dan tingkat kesulitan dalam membuatnya. “Untuk speedboat ukuran panjang sekitar 50 sentimeter biasanya sekitar Rp 600 ribu sudah termasuk mesin di dalamnya. Semakin besar dan semakin rumit tentu semakin mahal harganya,” sebutnya.

Dilanjutkanya, kerajinan miniatur kapal yang dibuatnya tersebut sudah ada yang memesannya. Karena bila dibuat terlebih  dahulu dan banyak, dirinya mengaku kekurangan modal, serta kesulitan untuk memasarkan kerajian miniatur kapal karya-karyanya tersebut.

“Penghasilan ini dapat membantu keuangan keluarga selama tidak bisa melaut. Semoga karya saya ini nantinya bisa dikenal orang banyak dan bisa membeli mesin untuk membantu dalam pembuatan miniatur,” imbuh nelayan ini. (*)

Penulis M YADI PE, Kuala Pembuang