Senyum Yantenglie 12 Tahun Tuntutan Penjara.

Tuntutan Jaksa Tinggi Lantaran Menilai Terdakwa Berbelit-belit

Rabu, Tanggal 10-07-2019, jam 03:03:19

single-post

FOTO: JUN/PE TERSENYUM: Terdakwa Ahmad Yantenglie terlihat tersenyum usai mendengarkan tuntutan dari JPU, kemarin (9/7).

PALANGKA RAYA – Mantan Bupati Katingan Ahmad Yantenglie terancam mendekam di balik jeruji besi selama 12 tahun. Tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) disambut senyum oleh terdakwa.  

Ketua Tim JPU Eman Sulaeman, mengatakan mantan bupati ini juga dibebankan denda sebesar Rp 500 juta subsidair enam bulan penjara. Tidak hanya itu saja, karena belum membayar uang pengganti, terdakwa juga dibebankan uang pengganti sebesar Rp 6,5 miliar subsidair enam tahun.

"Terdakwa ini berbelit-belit dalam persidangan. Itu yang menjadikan pertimbangan kami dalam memberikan tuntutan hukuman kepadanya," kata Eman usai persidangan di Pengadilan Tipikor Palangka Raya, kemarin (9/7).

Eman menjelaskan, bahwa terkait uang pengganti yang hanya Rp 6,5 miliar. Itu karena awalnya dibawa Herianto Chandra. Namun olehnya sudah dikembalikan ke Teguh Handoko dan olehnya diberikan ke terdakwa sebesar Rp 1,5 miliar, sisanya untuk membayar jasa advokasi Rp 5 miliar.

"Kalau jasa advokasi seharusnya dimasukkan ke anggaran APBD Kabupaten Katingan terlebih dahulu. Bukan langsung dipotong gitu saja, sebabnya terdakwa sudah melanggar Permendagri Nomor 13 tentang beban belanja negara," ujarnya.

Terpisah, Penasehat Hukum terdakwa Anthonius Kristiano, menerangkan itu sah-sah saja karena asumsi dan pendapat mereka. Tentu kita akan melawan yang akan kita sampaikan dipembelaan kami.

"Semua dakwaan memberatkan dan menolak, itu berdasarkan kacamata kami. Terkait uang pengganti yang hanya Rp 6,5 miliar kami tidak mau berasumsi, itu kewenangan JPU," terangnya.

Memang tuntutan ini terlalu berat, namun ia menegaskan itu hak mereka. Jadi kami mengajukan pembelaan dan akan bantah, untuk putusan bebas atau seperti apa kewenangan majelis hakim.

"Yang terpenting saat ini, kita akan menyiapkan pembelaan terhadap tuntutan JPU," pungkasnya. Mendengar tuntutan yang cukup tinggi, Yantenglie   yang didampingi istri tercinta Farida Yeni tetap tersenyum. "Kita akan buat nota pembelaan saja," ucapnya singkat sembari melempar senyum.

Sementara itu, untuk terdakwa lain dengan kasus yang sama Teguh Handoko. Ternyata saat ini berkas perkaranya siap di P21 oleh Kejaksaan Tinggi Kalteng. Hal tersebut, disampaikan Koordinator Pidsus Kejati Kalteng Eman Sulaeman, mengatakan untuk berkas Teguh Handoko memang sudah beberapa kali diserahkan ke kami. Namun hingga kini masih ada yang perlu dilengkapi penyidik, supaya nantinya bisa di P21.

"Kita ingin masih mengkaji. Apakah Teguh Handoko ini dikenalkan Yantenglie atau Herianto Chandra. Supaya nantinya berkas tersebut bisa di P21," katanya.

Ia menuturkan, akan meminta keterangan ahli nantinya. Dari OJK terkait peran Teguh ini seperti apa. Pasalnya menurut Loyer BTN disana bahwa uang tersebut tidak tercatat dalam simpanan deposito.

"Masih terus kita dalami, supaya nantinya kita bisa mengetahui hal sesungguhnya seperti apa," jelasnya. Terkait, rekomendasi dari kami untuk Sura Perangin Angin untuk statusnya seperti apa nantinya. Ia menegaskan memang ia ada peran membuat nota pendapat menandatangani surat ke BPD.

"Terus kita kaji apakah nanti bisa diajukan ke persidangan atau tidak peran dari Sura Perangin Angin ini. Untuk H Asep memang sampai saat ini kami masih buntu," ungkapnya.

Disisi lain, nasib beruntung dialami Tekli. Dimana terdakwa dugaan raibnya uang APBD Kabupaten Katingan, dituntut lebih ringan dari Ahmad Yantenglie. Yakni Tujuh Tahun penjara serta membayar denda Rp 500 juta subsidair enam bulan.

Beruntungnya ia tidak dibebankan uang pengganti dengan alasan dirinya sudah mengembalikan uang negara tersebut. Yang mana menurut JPU Eman Sulaeman terdakwa sudah mengembalikan sebesar Rp 345 juta.

"Sudah dikembalikan uang negara sebesar Rp 345 juta. Jadi tidak ada dibebankan uang pengganti," kata Eman. Ia menambahkan, terkait tuntutan yang lebih ringan dari terdakwa Ahmad Yantenglie. Pasalnya Tekli lebih kooperatif. Walaupun sama-sama tidak mendukung program pemerintah, akan tetapi berkat Tekli semua yang berkaitan dengan perkara ini terbuka.

"Tekli lebih terbuka daripada Yantenglie, makanya tuntutannya lebih ringan," tegasnya. Mendapatkan hukuman yang lebih ringan dari Yantenglie, Tekli pun terlihat santai. Namun istrinya tercinta terlihat meneteskan air mata saat mendampingi terdakwa Tekli. (jun/cen)