Kegagahan Wanita Getek Sungai Hitam

Cinta Lingkungan, Awal Yayu Menjadi Motoris

Kamis, Tanggal 28-11-2019, jam 09:58:54

single-post

FOTO: RUL/PE CANTIK: Yayu Lestari menjadi jasa perahu getek di Kereng Bangkirai, kemarin (27/11).

 

Dengan menggunakan topi hijau, kaos hitam dan celana jeans selutut, gadis cantik menyapa wisatawan di kompleks Pelabuhan Wisata Kereng Bangkirai. Dia menawarakan jasa wisata perahu getek kepada pengunjung untuk menikmati sensi Sungai Hitam.

 

NAMANYA adalah  Yayu Lestari, gadis berusia 23 tahun ini sudah dua tahun menggeluti jasa transportasi getek wisata. Anak ke-4 dari pasangan Kadin (bapak) dan Yani (ibu) dengan delapan bersaudara, sangat mencintai alam dan hobi mengendarai perahu kayu. Itu juga yang melatar belakangi dirinya menjadi motoris getek.

“Awal berprofesi menjadi driver getek dari tahun 2017. Bergabung dalam Kelompok Getek Maju Mandiri Taman Nasional. Ini adalah mata pencaharian bagi saya,” ceritanya kepada Palangka Ekspres, kemarin (27/11).

Kebetulan saat itu, awal PE menggunakan jasanya untuk kepentingan peliputan di Laboratorium Lahan Gambut, Cimtrop Universitas Palangka Raya. “Saya sering antar wisatawan kesini. Ada yang penelitian, ada juga cuma kunjungan,” cerita Yayu ramah menemani cerita dalam perjalanan.

Yayu sendiri asli suku Dayak Katingan, dia sudah tinggal di Kompleks Pelabuhan Wisata Kereng selama 11 tahun dengan mengikuti orang tuanya. “Saat ini orang tua kerja tambang,” jelasnya.

Berbicara tentang usahanya, Yayu yang tergabung di kelompok Getek Maju Mandiri Taman Nasional, bahkan getek miliknya dibuat oleh kelompok tersebut yang kemudian dia beli. Sementara untuk mesin penggeraknya adalah bantuan dari Lembaga Badan Restorasi Gambut beberapa tahun lalu.

“Aku sudah bergabung dalam kelompok Getek Maju Mandiri Taman Nasional. Jadi sudah resmi. Kelompok ini sangat kompak. Kapal ini mereka yang buat, saya beli. Mesinnya dapat dari bantuan BRG ,” ceritanya.

Yayu tampak senang dengan profesinya. Secara, sebagai motoris getek, tentu panas bila siang hari dan bila malam angin membuat kedinginan. Tapi dirinya mengaku senang dan tidak malu. Walau pekerjannya begitu berat, dia tatap selayaknya gadis remaja.“Saya belum menikah. Lulus SMA di Mendawai dan  langsung kerja ini. Tapi saya senang, tidak malu,” ungkapnya melempar senyum manisnya.

Tetap merawat diri dan menjaga kesopannnya, Yayu menegaskan, profesinya adalah hobi dan bentuk cintanya terhadap alam di Kalteng. Sebagia pelaku usaha, tentu ada keuntungan yang perlu diperhitungkan. Cerita Yayu, pendapatan perhari tidak bisa ditentukan. Namun untuk satu kali  antar susur  sungai untuk satu orang di minta Rp 20rb. “Kalau pengantaran ke taman nasional beda lagi. Memang tidak setiap hari ramai, pengunjung banyak biasanya sabtu dan minggu," tutupnya. (*)

Penulis Maruli FX Sinurat, Palangka Raya.