Ilmuwan Temukan Gambar 'Setan Epilepsi' Berumur 2.700 Tahun

Senin, Tanggal 06-01-2020, jam 09:50:48

single-post



msn.com


Ilmuwan menemukan sebuah gambar kuno bergambar iblis yang menjadi kambing hitam atas terjadinya penyakit epilepsi pada zaman dulu. Gambar kuno ini ditemukan pada sebuah tablet tanah liat dari Asiria yang sudah berumur 2.700 tahun.


Assyriolog dari University of Copenhagen, Denmark, Parm Arbøll memeriksa tulisan kuno yang ada di Museum  Vorderasiatisches di Berlin, Jerman. Dia melihat gambar iblis, yang digambarkan dengan tanduk, ekor dan lidah bercabang seperti ular.


Tablet tersebut berasal dari perpustakaan milk keluarga pengusir setan yang hidup pada era sekitar 650 SM di Assur, sebuah kota yang saat ini adalah bagian wilayah utara Irak. Ditulis dalam huruf paku, sistem huruf yang sangat awal di tablet ini dibentuk dengan menekan segitiga ke tanah liat yang lunak.


Prasasti mendeskripsikan obat untuk kejang, kedutan, dan gerakan otot yang terjadi tanpa disadari. Ini disebut sebagai kondisi ‘Bennu’ oleh orang Asyur dan kemudian diketahui sebagai gejala epilepsi.


Meski demikian,  orang-orang Asiria kuno mengira bahwa Bennu adalah kondisi yang disebabkan kerasukan setan. Dari penemuan yang dilihat Arbøll, teks di tablet tanah liar menunjukkan iblis yang menyebabkan Bennu atas nama dewa bulan Mesopotamia, Sin.


"Saya adalah orang pertama yang memperhatikan gambar itu, meskipun teks telah diketahui oleh para peneliti selama beberapa dekade," kata Arbøll kepada Live Science.


Arbøll menggambarkan iblis yang terlihat di tablet tanah liat memiliki tanduk melengkung, lidah seperti ular, dan mata seperti reptill. Mahluk tersebut juga memiliki ekor panjang yang ditempatkan di samping kaki kiri.


Bangsa Asiria kuno percaya bahwa epilepsi berhubungan dengan kegilaan. Keduanya diyakini disebabkan oleh dewa bulan. Gagasan kuno ini tercermin dalam kata bahasa Inggris untuk kegilaan (madness) dan lunacy (kegilaan)  yang menyiratkan hubungan dengan bulan, yang disebut dengan ‘luna’ dalam bahasa Latin.


Bangsa Asiria tidak membedakan antara sihir dan obat-obatan. Seringkali ritual dan inkarnasi dilakukan bersamaan dengan penggunaan obat, seperti ramuan, salep, hingga perban.


Di zaman dahulu, ada ‘dokter’ di kalangan Asiria yang akan mengobati Bennu dengan menempatkan jimat di leher orang yang mengalami kondisi ini. Kemudian, mereka memanaskan  berbagai bahan pada batu bara panas dan mengarahkan asap yang dihasilkan ke pasien. “Sangat jarang ditemukan obat yang dicerna atau salep diberikan pada pasien Bennu atau epilepsi di zaman itu,” jelas Arbøll. (net)