Wow. Makanan ini Jadi Populer

Bincang dengan BI Kalteng, Sate Sumbang Inflasi

Selasa, Tanggal 14-01-2020, jam 09:27:18

single-post

Jajaran Pengurus dan Analis BI Kalteng

Memenuhi undangan dari Bank Indonesia (BI) Kalteng belum lama ini, di suatu tempat sajian makanan wilayah pahandut seberang. Kami mendapatkan sebuah konfirmasi yang menarik untuk ceritakan. Ternyata ada kuliner makanan yang khas dengan ramuan bumbu kacang dan turunkan daging ayam, ternyata populer bahkan menyumbang inflasi perekonomian di Kalteng. Apakah itu, berikut perbincangan kami.

 

DUDUK satu meja dan menyantap makan siang dalam sebuah konfrensi  pers bulanan terkait perkembangan Ekonomi Kalteng tahun 2019 lalu, serta jamuan makan siang dari BI Kalteng. Disini kami mendapatkan sedikit konfirmasi terkait kuliner sate.

Mau tahu, bahwa ternyata Sate dalam kurun waktu beberap tahun ini bisa dikatakan selebritis kuliner di Kalteng. Khususnya di kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur dan Palangka Raya, Provinsi Kalimantan Tengah.

Sebelumnya, berawal dari data Badan Pusat Statistik (BPS) Kalteng, bahwa kuliner sate menduduki peringkat lima besar yang menyumbang inflasi. Hal ini kemudian kami diskusikan ke pihak BI. Lebih pasnya oleh pria muda bernama Iqbal Baihaqi yang bertugas dibagian analis Fungsi Asesmen Ekonomi dan Surveilans BI Kalteng.

"Saya melihat bahwa sate ini populer di Kalteng. Permintaannya cukup tinggi. Berdasarkan data saya, sumbangan inflasi sate terhadap inflasi kalteng itu 0,16 persen lho," Baihaki menanggapi perbincangan ini. Jumat (10/01/2020).

Mendengar itu, tentu ada pertanyaan, kenapa bisa Sate bisa menyumbang inflasi walau persentasenya tidak sampai satu persen tapi ini hal yang menarik. Coba perhatikan saja, masih ada kuliner lainnya seperti bakso, pentil maupun gorengan tahu dan tempe.

Perbincangan pun berlanjut. Disini ada jawaban, ternyata, sate khususnya yang berbahan pokok daging ayam beras, telah mempunyai pengagumnya. Mari kita lihat bahan pokok daging sate dan racikan bahan bumbu pada sate, seperti daging ayam beras dan cabai, keduanya adalah bahan utama pembuat sate. Selain itu ada juga kadang dan bumbu lainnya.

Untuk melengkapi jawaban ini, bisa dikaji dari komoditas cabai dan daging ayam beras berdasarkan tabel Pusat informasi harga pangan strategis (PIHPS) BI Kalteng, juga penyumbang inflasi.

Bahwa cabai merah mengalami kenaikan, khususnya Palangka Raya dan Sampit. Untuk minggu pertama di bulan Desember saja berkisaran Rp.41.250 rupiah per kilo. Dan di minggu pertama Januari 2020 di posisi Rp.38.750 rupiah per kilo. Selama Desember 2019 sampai Januari 2020, mengalami penurun tidak signifikan. Begitu juga untuk daging ayam beras, minggu pertama Desember 2019, Rp.42.400 per kilo dan Januari 2020, minggu pertama Rp.36.200 per kilo.

"Dampak kenaikan harga bahan pembuat sate juga akan mempengaruhi harga sate. Kerena sate ini mungkin makanan favorit di Kalteng, tetap ada pembelinya. Oleh itu sebenarnya permintaannya tinggi dan suplaynya  juga tinggi," ungkapnya.

Dalam kegiatan itu juga hadir jajaran petinggi BI Kalteng yakni Devi Ika Puspitasari selaku Deputi Kepala Perwakilan BI Provinsi Kalteng, Yuda Berlambang selaku Analis, Mustaqim selaku Kepala Unit Pengelolaan Uang Rupiah (PUR), Sudiro selaku Kepala Unit  Pengawasan Sistem Pembayaran,  PUR dan Keuangan Inklusif dan Farid selaku Analis. "Melihat fenomena ini, pelaku usaha penjual sate peluang usaha menjanjikan," tutupnya sembari tersenyum.

Saat itu, ternyata ada salah satu warga yang duduk dekat kami berkumpul. Dia salah satu pecinta sate, yakni Apri (28) pegawai swasta. Yang juga kebetulan ikut dalam suasana perbincangan saat itu. "Saya beli sate terkahir harganya sekitar Rp.20ribu dengan sate 10 tusuk dan lontong 2 biji. Asumsinya satu tusuk sate harganya Rp.1500 dan lontong Rp.2500 satu," cetus Apri yang tinggal di jalan RTA Milono km 08, Kota Palangka Raya.

April singkat mengatakan,  dia pecinta sate dan itu makanan favoritnya. Bahkan ketika menikmati kuliner lainnya seperti nasi sop, biasa ya harus ada sate. "Oh itu makanan favorit. Walau harganya malah, tapi bila kepingin ya beli, kalau gak bisa beli penuh ya separuh saja," begitu katanya. (*)

 

Penulis MARULI FX SINURAT, Palangka Raya