Saat Pengangguran Terjerat Tindak Pidana

Awalnya Nyari Kerjaan, Malah Diajak Mencuri

Senin, Tanggal 03-02-2020, jam 09:32:02

single-post

FOTO: WIJ/PE DIPERIKSA: Tersangka Leo Toga saat diperiksa JPU Kejari Kotim, kemarin (30/1).



Leo Toga, namanya. Pria 23 tahun ini harus berurusan dengan hukum lantaran terlibat kasus pencurian buah kelapa sawit, milik perusahaan perkebunan. Berikut kisahnya. 

 


BERNIAT mencari kerjaan, Leo malah terlibat tindak pidana. Ya, pria tamatan SD, bermukim di Jalan pantar Sanggaran, RT004/RW002, Desa Bangkal, Kecamatan Seruyan Raya, Kabupaten Seruyan ini, merantau ke Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) ini terjerat bujukan temannya untuk melakukan tindak pidana pencurian.


Apesnya lagi, meskipun aksi pencurian itu dilakukan delapan orang, namun hanya dirinya yang masuk penjara. “Maklum mas, sayakan perantau tidak tahu jalan. Pas diamankan satpam, saya bingung mau kabur kemana, sementara kawan-kawan saya sudah lari semua,” tutur Leo saat pelimpahan tahap II di Kejari Kotim, kemarin (30/1).


Ia menyebutkan, aksi pencurian itu dilakukan mereka di kebun perusahaan PT Mustika Sembuluh I, Desa Pondok Damar, Kecamatan Telawang, Kotim, Rabu 18 Desember 2019 lalu. “Itu pencurian yang kedua kalinya. Waktu nyuri yang pertama, saya dapat bagian Rp 200 ribu, lumayan,” sebut Leo.


Ia mengisahkan, sebelum pencurian itu dilakukan, awalnya ia bertemu temannya, Oreng untuk menanyakan pekerjaan. “Saya lalu diminta datang ke rumahnya,” timpalnya.


Malam harinya, ia langsung mendatangi kediaman Oreng. “Oreng lalu mengajak saya untuk ikut mencuri. Karena tidak ada kerjaan, saya mau,” tuturnya.


Lanjutnya, lantaran aksi pertama berjalan mulus dan dapat bagian Rp 200 ribu, Leo lalu kepincut untuk mengulangi perbuatannya. Bersama Oreng, Talun, Kenun, Moli, Ruli, Dadi dan Nardi, mereka kembali memanen buah sawit perusahaan sekitar pukul 05.30 WIB.


Dalam menjalani aksinya, mereka berbagi tugas. “Oreng dan dua temannya khusus memanen, saya sama kawan bertugas mengangkutnya menggunakan karung. Buahnya lalu kami tumpuk ke dalam parit, kalau sudah terkumpul baru kami masukan ke pikap,” jelas tersangka.


Tambahnya, waktu itu, mereka berhasil mengumpulak 127 janjang buah sawit, dengan kisaran harga Rp 1,8 juta. “Pas mau muat ke pikap, ada satpam, saya tertinggal sendirian, kawan kabur semua,” imbuh Leo. Pria berperawakan kurus ini mengungkapkan, aksi pencurian buah sawit di Pondok Damar memang marak dan tidak hanya dilakukan oleh kawanannya. 


“Di sana ada penampungnya. Kalau buah curian dibeli Rp 1.000 per kilonya. Kalau buah kebun sendiri Rp 1.200 per kilonya,” tutup pria yang disangka dengan Pasal 107 huruf (d) UU RI No 39 Tahun 2014 tentang Perkebunan, Jo Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHPidana atau kedua Pasal 363 Ayat (1) ke-4 KUHPidana ini. (*)

 

Penulis  WIJAYA SE, Sampit